5.13.2014

BAHAYA ECENG GONDOK DAN PENANGGULANGANNYA

Eceng Gondok (Eichornia crassippes) merupakan salah satu gulma perairan, dimana kehadirannya seringkali tidak diinginkan. Eceng gondok merupakan tanaman yang berasal dari Brazil dan diperkirakan masuk ke Indonesia pada tahun 1894 di Kebun Raya Bogor sebagai tanaman hias. Dahulu eceng gondok merupakan tanaman hias yang digandrungi karena bunganya yang berwarna ungu sangat menarik sebagai penghias kolam seperti teratai.

Eceng Gondok (Eichornia crassippes)

Tanaman ini memiliki kemampuan untuk berkembang biak vegetatif yang sangat tinggi, terutama di daerah tropis dan subtropis. Eceng gondok mudah untuk menyebar melalui saluran perairan ke badan perairan yang lain. Sebenarnya, tanaman yang mengambang di air merupakan tanaman yang disukai ikan karena menyediakan penutup permukaan, menaungi bagian bawah air dari sinar matahari dan menyediakan tempat bagi ikan untuk bersembunyi dari predator. Namun jika jumlahnya terlalu banyak, keberadaan eceng gondok akan menimbulkan banyak permasalahan. Namun ironisnya, hingga sekarang belum ditemukan cara yang betul-betul optimal untuk memberantas lajunya pertumbuhan eceng gondok. Di Indonesia eceng gondok telah menyebar ke seluruh perairan yang ada dan memenuhi setiap jengkalnya, baik waduk, rawa, danau, maupun sungai.

Eceng gondok di jalur transportasi Danau Semayang



Bahaya yang dapat ditimbulkan dari tanaman eceng gondok ini adalah sebagai berikut:
  1. Dapat meningkatkan habitat vektor penyakit bagi manusia, seperti nyamuk.
  2. Mengganggu transportasi air, seperti penduduk disekitar Danau Semayang yang masih memanfaatkan danau sebagai jalur transportasi utama. Tumbuhan Eceng Gondok sangat mengganggu sekali bagi para nelayan, karena menyebabkan perahu sering terjebak dan sulit untuk bergerak. 
  3. Mengurangi intensitas cahaya yang masuk ke dalam air karena pertumbuhan yang begitu cepat sehingga dapat menutupi seluruh perairan, akibatnya jumlah cahaya yang masuk ke dalam air akan semakin berkurang dan tingkat kelarutan oksigen pun akan berkurang sehingga dapat menganggu ekosistem di dalamnya.
  4. Eceng gondok yang telah mati akan mengendap di dasar danau, mempercepat proses pendangkalan yang mengakibatkan terjadinya banjir pada pemukiman di sekitar danau.
  5. Evapotranspirasi yang cepat, karena penguapan dan hilangnya air lewat daun eceng gondok. Hal ini mengakibatkan jumlah kehilangan air akan semakin bertambah akibat pertumbuhan Eceng Gondok yang begitu cepat dan memiliki daun yang lebar. Danau akan semakin cepat mengalami kekeringan ketika musim kemarau melanda.
  6. Mengurangi estetika lingkungan danau.

Tumpukan eceng gondok di musim kemarau

Adapun cara-cara yang dapat dilakukan untuk mengurangi penyebaran eceng gondok yang begitu cepat dapat dilakukan beberapa cara:
  1. Memanfaatkan eceng gondok, seperti membuat kerajinan dari eceng gondok dan memanfaatkan eceng gondok sebagai biogas.
  2. Menggunakan hewan pemakan eceng gondok, seperti ikan Grass Carp (ikan Koan).
  3. Mengeluarkan eceng gondok dari danau ke daratan, yang seringkali digunakan sebagai penjaga kelembapan tanah tanaman.
  4. Menggunakan herbisida pemberantas gulma.

4.30.2014

JAGA KEBERSIHAN DANAU SEMAYANG

Danau Semayang

Danau Semayang merupakan salah satu danau di Indonesia yang harus mendapatkan perhatian khusus dari pemerintah. Karena tidak dapat dipungkiri bahwa danau Semayang bersama dengan danau Melintang merupakan daerah pengendali banjir di hilir sungai Mahakam.
Danau Semayang yang merupakan sumber mata pencaharian masyarakat desa Semayang dan sekitarnya memiliki luas sekitar 11 ribu hektare. Danau Semayang sering disebut juga dengan danau banjir. Hal ini dikarenakan letaknya yang berada di posisi yang lebih tinggi dari sungai Mahakam. Danau Semayang terhubung langsung dengan sungai Mahakam. Ketika sungai Mahakam pasang, maka sebagian besar airnya akan masuk ke danau Semayang yang akan menyebabkan banjir, sehingga disebut sebagai danau banjir. Ketika air sungai Mahakam surut, danau Semayang akan mengalami kekeringan, yaitu saat kemarau. Karakteristik danau Semayang yang langsung terhubung dengan sungai Mahakam membuatnya sangat berbeda dibandingkan dengan danau-danau lain pada umumnya yang ada di Indonesia. Karena pada umumnya danau tidak langsung terhubung dengan DAS.
Mengingat pentingnya peranan danau Semayang bagi masyarakat sekitarnya, selayaknya kita semua terutama masyarakat sekitar danau Semayang dan sungai Mahakam serta pemerintah untuk bersama-sama dapat lebih menjaga kebersihan dan kelestarian danau Semayang. Karena kita ketahui sekarang pendangkalan dasar danau Semayang semakin meningkat. Hal ini salah satunya disebabkan oleh pencemaran yang dilakukan oleh manusia. Bisa dibayangkan apa yang akan terjadi jika pendangkalan terus terjadi, kemana luapan dari sungai Mahakam akan ditampung ketika pasang?

4.29.2014

JALAN-JALAN KE BROMO

Sudah lama tidak minum jamu...
Minum jamu dari daun nangka...
Sudah lama tidak bertemu....
Oh ternyata dia masih setia...

Penggalan lagu diatas dilantunkan khusus buat blog saya ini, ternyata masih setia walaupun lama ga dibuka dan diupdate, hehehe. Maklum saja tuanmu ini sibuk sekali akhir-akhir ini. Sebenarnya cuma sok sibuk.


Oke, sebenarnya saya belum mempersiapkan topik untuk ditulis kali ini, tiba-tiba saja terbesit dipikiran untuk berbagi pengalaman tentang pengalaman perjalanan saya ketika jalan-jalan ke gunung Bromo. Perjalanan ini sebenarnya tidak pernah direncanakan sama sekali sebelumnya. Sekitar hampir satu tahun yang lalu, tepatnya bulan juni saya berangkat ke kota Malang dengan tujuan untuk mengikuti tes masuk kuliah S2 di UM. Perjalanan yang sangat saya nikmati karena ini adalah perjalanan pertama saya menuju kota yang terkenal sangat sejuk itu (tapi tergolong dingin bagi saya). Perjalanan ke Malang ini saya tidak sendiri, ditemani dua orang teman dengan tujuan yang sama. Teman yang juga kebetulan ketemu dan baru kenal di Surabaya, dan sama-sama berasal dari universitas yang sama yaitu UNMUL, dan kebetulan juga mereka merupakan mantan anggota IMAPA (ikatan mahasiswa pencinta alam) UNMUL yang pastinya sangat suka sekali berpetualang. Sepertinya semua serba kebetulan, hehehe.

Rasanya tak ada lagi yang tidak mengenal gunung Bromo, dimana tempat ini merupakan salah satu tujuan favorit turis  asing setelah Bali dan Lombok. Sudah banyak blog yang membahas atau menceritakan tentang keindahan Bromo.
Baiklah, langsung saja...
Tengah malam, tepatnya hari minggu, saya dibangunkan oleh teman saya untuk diajak jalan ke gunung Bromo. Agak kaget sebenarnya, memang saya sebelumnya tidak diberitahu tentang rencana keberangkatan tersebut. Bersama tiga orang anak-anak IMAPA UIN Malang kita langsung berangkat menuju Bromo pada malam itu dengan menggunakan sepeda motor, tapi sebelumnya singgah terlebih dahulu pada salah satu mini market untuk persiapan bekal disana.

Saya belum bisa menikmati perjalanan keberangkatan ini, hanya susana yang gelap, pemukiman warga yang sepi dan jalan menanjak yang ada dalam pikiran saya saat itu. Satu lagi, dingiiin brooo,,, walaupun udah pake jaket tebal, tetap saja udara dingin merasuk dalam tubuh.

Setelah sampai di desa Wonokitri kami memasuki POS Perijinan. Kami diminta untuk membayar harga tiket sebesar Rp 27.000 (motor + 2 penumpang) dengan rincian Rp. 12 ribu/orang dan tiket masuk motor Rp. 3 ribu. Harga tiket yang Rp. 12 ribu itu dibagi menjadi 2 bagian yaitu Rp. 10 ribu untuk Taman Nasional Bromo Tengger Semeru dan Rp. 2 ribu untuk pemerintah Kabupaten Probolinggo.

Sekitar pukul 4 pagi, kami tiba di Penanjakan yang merupakan tempat sunrise view point, karena kami ingin melihat panorama alam Matahari terbit (Sunset) sebelum menuju Bromo. Di sekitar daerah ini saya memutuskan untuk membeli syal dan penutup kepala karena tidak tahan dengan dinginnya udara saat itu.

Dan ternyata rame sekali saudara-saudara. Ya emang, sapa suruh datang hari minggu, hehe. Sambil menunggu sunset, kami menikmati bekal yang kami bawa dari Malang. Tiba saat sunset mulai tiba, semua orang mulai bersiap dengan kameranya masing-masing dan mencari posisi yang tepat untuk merekam fenomena tersebut. Ternyata hari itu kami memang kurang beruntung, tepat di ufuk timur, tempat matahari pertama kali akan menampakkan dirinya sedang tertutupi oleh awan sehingga fenomena tersebut tidak terlihat pada saat itu. Namun pemandangan yang dipersembahkan daerah gunung bromo yang semakin menampakkan diri membuat saya takjub dan sangat bersyukur bisa diberi kesempatan untuk dapat menikmati keindahan tersebut. Perjalanan yang melelahkan terbayar sudah oleh panorama tersebut.

Penampakan gunung Bromo. Semeru dkk dari Penanjakan.

Narsis dikit, hehehe

Setelah puas menikmati pemandangan Bromo, Semeru dkk dari Penanjakan, kami memutuskan melanjutkan perjalanan menuju destinasi perjalanan utama, yaitu gunung Bromo. Dan saya baru menyadari bahwa setiap perjalanan yang kami lalui menawarkan pemandangan yang sangat indah sekali. Melalui  lautan pasir yang luas, akhirnya kami sampai di gunung Bromo. Melihat adanya jasa penawaran naik kuda disana, saya langsung tertarik untuk menaiki kuda tersebut menuju tangga naik Bromo. Setelah melakukan tawar menawar, akhirnya saya diizinkan menggunakan kuda dengan harga Rp. 40 ribu. Setelah sampai di dasar anak tangga, saya dipersilahkan untuk turun dari kuda dan kemudian siap-siap untuk menaiki anak tangga yang panjang sekali, terlihat dari kejauhan orang-orang yang turun dan naik tangga tersebut yang mirip seperti badan naga berwarna-warni, rame sekali. Bisa dibayangkan capeknya menaiki anak tangga yang berjumlah kurang lebih 250 anak tangga. Tetapi jangan khawatir, ditengah-tengah tangga dipersiapkan beberapa tempat peristirahatan bagi yang kelelahan. Rasa lelah menaiki anak anak tangg yang panjang terbayarkan oleh panorama yang disuguhkan ketika sampai di puncak Bromo. Dari puncak kita bisa menikmati kawah gunung Bromo dan lautan pasir di sekitar Bromo.

Akses menuju gunung Bromo

Naik kuda yang disewakan di kawasan Bromo 

Bukit Teletubbies, mungkin karena mirip bukit yang ada di film Teletubbies, hehehe

Setelah puas menikmati gunung Bromo, kami bersiap-siap untuk kembali pulang. Namun diperjalanan pulang kami singgah di salah satu pemukiman warga suku Tengger, salah satu kerabat teman perjalanan saya, untuk beristirahat. Karena udara yang sangat dingin, disetiap rumah di pemukiman suku Tengger terdapat perapian untuk menghangatkan diri. Sambil menghangatkan diri, kami mengobrol dengan salah satu warga suku Tengger mengenai kebiasaan warga disana. Menarik sekali, dan banyak ilmu yang saya dapatkan dari obrolan tersebut. Salut, karena masih ada warga yang masih sangat mempertahankan kebudayaan di zaman yang modern ini.

Saat perjalanan pulang, saya sangat menikmati sekali pemandangan yang disuguhkan alam, tidak seperti perjalanan keberangkatan. Tidak menyangka suasana seperti itu memang benar-benar ada di negara tercinta Indonesia. Salah satu hal yang membuat saya bangga menjadi warga negara Indonesia. Sambil berdoa dalam hati, semoga bisa mendapatkan kesempatan untuk dapat menikmati pemandangan seperti ini lagi di lain waktu. Amiiin...


Tuntaslah sudah cerita perjalananku ke gunung Bromo yang sangat fantastis,,, 

2.14.2014

BACKPACKER TO BALI

Setelah kurang lebih 6 bulan harus berkutat dengan tugas-tugas perkuliahan akhirnya tiba juga liburan yang ditunggu-tunggu. Liburan semester kali ini adalah liburan pertama selama saya kuliah di Surabaya. Rasanya tidak afdhol jika saya tidak memanfaatkan liburan kali ini untuk jalan-jalan terlebih dahulu sebelum memutuskan untuk pulang kampung, karena memang liburnya yang cukup lama. Setelah berdiskusi dengan seorang teman bernama Hadi yang sama-sama berasal dari kalimantan kami akhirnya memutuskan untuk liburan ke Bali (lebih tepatnya backpackeran ke Bali), tempat yang sering dijadikan destinasi liburan oleh para tourist di dunia. Lets go...
Untuk transportasi menuju Bali, kami memutuskan untuk menggunakan jasa PT. KAI (Kereta Api Indonesia). Emang bisa ya? Surabaya dan Bali kan tidak sepulau? Itu juga yang terbesit dipikiran saya ketika melihat rute tersebut ketika browsing di internet. Ternyata memang benar PT. KAI menyediakan rute Surabaya-Denpasar, akan tetapi kereta api hanya mengantarkan sampai stasiun Banyuwangi saja, kemudian dilanjutkan naik bus DAMRI yang telah disediakan PT. KAI untuk menuju Bali. Nama kereta api dengan rute tersebut adalah Mutiara Timur Siang dan Mutiara Timur Malam.
Hari selasa, tanggal 21 Januari 2014 tiba waktunya berangkat ke Bali sesuai dengan rencana. Tiket sudah dibeli sebelumnya dengan harga Rp. 165.000 dengan jadwal keberangkatan pukul 09.00 WIB dengan kereta api Mutiara Timur Siang. Pukul 08.30 WIB (sebenarnya lebih dikit sih, biasa ngaret) kami berangkat dari kost yang berlokasi di keputih utara menggunakan taxi. Lumayan buru-buru, akhirnya sampai distasiun tepat waktu. Tanpa menunggu lama kereta kami berangkat (meskipun ngaret juga,, hehe), dan akhirnya keinginana saya untuk merasakan bagaimana rasanya naik kereta api terwujud. Yeey! (maklum di Kalimantan belum ada yang begituan).

Di dalam kereta api

Untuk mencapai stasiun Banyuwangi yang merupakan stasiun pemberhentian terakhir diperlukan waktu sekitar 6 jam, sehingga amat sangat disarankan untuk membawa bekal makanan yang banyak (saran dari teman yang lebih berpengalaman dalam hal naik kereta api). Jangan kawatir jika ternyata lupa atau terlanjur tidak membawa bekal makanan, karena di dalam kereta ada petugas yang bertugas sebagai penjual makanan (ga tau termasuk dalam klasifikasi tugas apa bukan), namun tau sendiri kan alasan kenapa membawa makanan sendiri lebih baik (kan judulnya backpackeran). Setelah berjuk ijak ijuk selama 6 jam (lebih sedikit) akhirnya sampai juga di stasiun Banyuwangi. Saatnya untuk melanjutkan perjalanan dengan menggunakan bus DAMRI.
Sekarang waktunya menyebrangi selat Bali menuju pelabuhan Gilimanuk. Waktu yang ditempuh sekitar 1 jam. Selama naik feri penyebrangan kami memutuskan untuk keluar dari bus dan naik ke lantai 2 untuk menikmati suasana sore hari di selat Bali. Walaupun cuaca sore agak mendung tetapi tidak mengurangi keindahan alam yang diberikan oleh Allah SWT, alhamdulillah.

Selat Bali

Narsis dikit di atas feri menuju pelabuhan Gilimanuk

Setelah sampai di pelabuhan Gilimanuk, perjalanan dilanjutkan. Tetapi sebelumnya ada satu syarat yang harus dipenuhi sebelum memasuki wilayah Bali yaitu untuk penumpang lokal harus menunjukan KTP pada petugas yang melakukan pemeriksaan. Setelah pemeriksaan selesai, bus melanjutkan perjalanannya. Selama kurang lebih 4 jam, akhirnya kami sampai di suatu tempat yang gelap (ya eyalah, kan malam). Dan ternyata diluar dugaan dan perkiraan, bus yang katanya (dari hasil browsing) berhenti di terminal ubung ternyata tidak. Kita diberhentikan di sebuah stasiun di Mengwi (nama yang diketahui setelah dicek di GPS). Memang ternyata ini merupakan peraturan baru semenjak terminal Mengwi beroperasi, tapi tidak ada pemberitahuan sebelumnya dari PT. KAI kepada kami yang termasuk kategori penumpang newbie. Sempat bingung karena ditelantarkan di Mengwi malam-malam, terbesit dipikiran kami untuk menginap di mesjid atau musholla tetapi yang banyak terlihat hanya pura-pura dengan ukiran yang "artistik". Tetapi dengan tekad yang pantang untuk menyerah (halah), akhirnya kami menemukan sebuah penginapan (lupa namanya) yang lumayan bagus suasana dan harga tentunya yaitu Rp. 100.000 dan letaknya juga tidak jauh dari stasiun Mengwi. Dan tiba juga waktu untuk melepaskan penat seharian dan memikirkan petualangan untuk esok harinya, pagi pertama di Bali.

Istirahat di penginapan

Nih temen gue narsis di halaman penginapan sebelum memulai petualangan

1.11.2014

POWERPOINT LAJU DAN ENERGI DALAM GELOMBANG



Klik disini untuk download.

Silahkan request password dengan mencantumkan email di kolom komentar.

POWERPOINT GERAK PERIODIK


Klik disini untuk download.

Silahkan request password dengan mencantumkan email di kolom komentar.

POWERPOINT ENERGI PADA GERAK HARMONIK SEDERHANA


Klik disini untuk download.

Silahkan request password dengan mencantumkan email di kolom komentar.

POWERPOINT EFEK DOPPLER


Klik disini untuk download.

Silahkan request password dengan mencantumkan email di kolom komentar.

POWERPOINT GELOMBANG MEKANIK



Klik disini untuk download.

Silahkan request password dengan mencantumkan email di kolom komentar.

POWERPOINT BUNYI DAN PENDENGARAN



Klik disini untuk download.

Silahkan request password dengan mencantumkan email di kolom komentar.

POWERPOINT GELOMBANG BERDIRI & MODE NORMAL GELOMBANG LONGITUDINAL



Klik disini untuk download.

Silahkan request password dengan mencantumkan email di kolom komentar.

POWERPOINT INTERFERENSI GELOMBANG



Klik disini untuk download.

Silahkan request password dengan mencantumkan email di kolom komentar.


12.10.2013

POWERPOINT MEDAN MAGNET


Klik disini untuk download.

Silahkan request password dengan mencantumkan email di kolom komentar.

POWERPOINT RANGKAIAN LISTRIK


Klik disini untuk download.

Silahkan request password dengan mencantumkan email di kolom komentar.


POWERPOINT ALAT-ALAT OPTIK


Klik disini untuk download.

Silahkan request password dengan mencantumkan email di kolom komentar.

POWERPOINT OPTIK GEOMETRI


Klik disini untuk download.

Silahkan request password dengan mencantumkan email di kolom komentar.


POWERPOINT SIFAT DAN PERAMBATAN CAHAYA


Klik disini untuk download.

Silahkan request password dengan mencantumkan email di kolom komentar.

12.09.2013

BANJIR, TAK MENGHALANGI TEKAD SISWA DESA SEMAYANG

Iseng browsing tentang desa Semayang di internet, dan akhirnya terfokus pada sebuah foto yang cukup menarik untuk di share di blog ini. Sebuah suasana yang tidak asing lagi bagi masyarakat desa semayang. Dimana saat banjir besar melanda, anak-anak di desa Semayang tetap menjalankan kewajibannya untuk menuntut ilmu. Dengan perahu kecil yang biasanya terbuat dari plywood dengan kapasitas 1-3 orang, anak-anak desa Semayang tetap semangat untuk pergi ke sekolah.

 Kegiatan siswa-siswa SD di desa Semayang yang sedang dilanda banjir
(Foto : DDKalTim)



Sekolah yang berbentuk panggung agar kegiatan belajar mengajar tetap berlangsung saat banjir
(Foto : Asep Beny)

Jadi ingat pengalaman masa lalu saat masih sekolah di desa Semayang. Harus mendayung menempuh jarak kurang lebih satu kilometer untuk sampai kesekolah. Melalui ombak danau Semayang yang cukup membuat jantung berdebar jika angin kencang, melewati semak-semak yang cukup membuat was-was akan adanya binatang berbisa, dan menahan panasnya siang matahari di siang bolong. Akan tetapi rasa semangat untuk belajar mengalahkan itu semua. Perjalanan yang dibuat asyik dengan senda gurau, bermain dengan teman-teman yang berada di perahu lain. Saking asyiknya, tidak jarang pulang dengan baju basah kuyup karena perahu tenggelam. 

12.05.2013

POLUSI CAHAYA, MELENYAPKAN PENGALAMAN TERINDAH

Teringat waktu kecil dikampung, ketika bermain-main di malam hari dengan teman-teman sambil melihat indahnya langit malam yang dihiasi taburan cahaya bintang. Berebutan untuk make a wish saat melihat bintang jatuh. Berdiskusi mengenai rasi bintang, yah walaupun cuma sotoy. Apalagi ketika dulu saya melintas di danau Semayang saat malam hari, wuih pasti akan takjub dengan langit yang luas yang dipenuhi dengan gemerlap bintang. Pemandangan langit malam yang menakjubkan memberikan inspirasi tiada akhir. Ingin sekali rasanya kembali ke masa itu. Melamun sambil melihat bintang dimalam hari dalam bahasa kerennya disebut sebagai stargazing.

Lalu kemanakah gemerlap bintang seperti itu di kota sekarang ini, seolah-olah telah lenyap dari pandangan sebagian besar penduduk bumi. Pencahayaan kota dengan gemerlap lampu-lampu kota telah membutakan mata kita terhadap pemandangan indah langit di malam hari, walaupun pada kenyataannya sebagian besar orang tidak mempedulikan hal tersebut. Memang karena anak-anak sekarang kebanyakan tumbuh tanpa bisa melihat gugusan cahaya di langit malam.

Mengapa itu bisa terjadi? Polusi dan debu yang berterbangan di atmosfir kota memantulkan cahaya perkotaan membentuk lapisan cahaya yang meneggelamkan gemerlap cahaya bintang. Keadaan ini disebut sebagai polusi cahaya. Polusi cahaya adalah dampak buruk akibat cahaya buatan manusia karena intensitas yang terlalu besar. Sebagian besar polusi cahaya merupakan efek samping dari industrialisasi. Polusi cahaya berdampak terhadap kehidupan hewan. Burung yang bermigrasi menggunakan bintang dan bulan sebagai alat navigasi. Akibat adanya polusi cahaya, mereka tidak dapat bermigrasi ke tempat yang tepat. Penyu laut juga tidak datang ke pantai dan bertelur seperti biasa karena takut dengan cahaya. Polusi cahaya yang membutakan teleskop juga berpengaruh terhadap perkembangan ilmu pengetahuan. Polusi cahaya juga berdampak terhadap kesehatan, misalnya susah tidur dan bahkan menyebabkan  kanker.

 Langit kota di malam hari

 
Langit desa di malam hari

12.03.2013

WAJAH SENJA DESA SEMAYANG

"Sungguh tak menyangka bahwa desa Semayang di kala senja sangatlah indah", gumam saya dalam hati ketika membongkar-bongkar gallery Handphone yang banyak menyimpan foto-foto lama desa Semayang. Nah, karena saya tidak ingin menikmati keindahannya sendirian dan karena saya bukan orang yang pelit, kali ini saya bermaksud untuk membagi foto-foto tersebut kepada kalian.

Maaf jika kualitas fotonya agak jelek, maklum handphone jadul dan bukan fotografer profesional.

 Desa Semayang yang dibelah sungai dari danau Semayang

 Langitnya agak mendung

 Pancaran mega di balik pepohonan desa Semayang

 Lihat!!! Ada pelanginya

Wuih!!! Silau men